Medan, CNBC Indonesia - Gubernur sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan fokus kebijakan yang tengah menjadi perhatian utama bank sentral saat ini.
Fokus itu kata dia muncul di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dunia akibat perang, dan tingginya potensi era suku bunga tinggi dalam jangka panjang alias higher for longer.
Menurut Destry, setidaknya ada dua masalah ekonomi yang tengah menjadi perhatian bank sentral saat ini, pertama ialah masalah tekanan inflasi, serta gejolak kurs rupiah.
"Tantangan yang dalam jangka pendek dan betul-betul harus menjadi perhatian kami adalah jaga stabilitas, baik itu dalam kaitannya nilai tukar rupiah dan inflasi," kata Destry saat media briefing secara daring, Jumat (31/7/2026).
Dua masalah itu lah yang kata Destry sudah mulai dijawab dalam hasil rapat dewan gubernur Juli 2026, yakni melalui kebijakan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75%.
"Karena ada kita lihat ketidakpastian di luar yang memengruhi stabilitas di dalam, terutama terkait aset pricing domestic misalnya SBN rate, yield, aset pricing lainnya, SRBI dan lainnya," ujar Destry.
Dengan kebijakan suku bunga acuan yang masih dipertahankan itu, Destry menekankan, BI juga memberi sinyal tengah fokus menjaga stabilitas inflasi, terutama inflasi pangan yang sudah melampaui sasaran inflasi umum 2,5% plus minus 1%, yaitu sudah di atas 5%.
"Dan itu kita lihat ke depan ada tantangan inflasi khususnya inflasi pangan. Core inflation relatif aman dengan total sebesar 3,5% di posisi terakhir, memang jadi perhatian kita inflasi pangan di atas 5%," ucap Destry,
(arj/haa)